Sunday, February 21, 2010

TUJUAN DAN MAKNA HUKUM AGAMA ISLAM

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama yang diterima selain Islam.

Tujuan dan makna agama islam adalah agar supaya hidup ter arah yang lebih baik di dunia maupun di akhirat, dengan ketentuan-ketantuan yang telah diajarkan oleh para rosul utusan Alloh SWT, dengan ajaran kitab yang telah diturunkan oleh Alloh SWT dengan perantara rosul utusanNYA lewat ayat-ayat suci dariNYA.

Alloh Subhana wa Ta'ala berfirman: "Muhammad itu sekalikali bukanlah bapak dari seorang lakilaki di antara kamu,tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabinabi (QS. AlAhzab: 40).
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu…" (QS. AlMaidah: 3).
"Sesungguhnya Addien(yang diridhoi) di sisi Alloh hanyalah Islam…" (QS. AlImran: 19).
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekalikalitidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orangorang yang rugi." (QS. AlImron: 85).
Alloh Subhana wa Ta'ala telah mewajibkan seluruh umat manusia agar memeluk agama
Islam karena Alloh. Hal ini sebagaimana telah difirmankanNya kepada RosulNya, yang artinya :
"Katakanlah : "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Alloh dan RasulNya
Nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimatkalimatNya (kitabkitabNya)
dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk." (QS. AlA'raf 158).
Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu 'anhu dikatakan bahwa Rasulullah sholalallohu 'alaih wasallam bersabda :
"Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, tidak seorang pun dari ummat ini, Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku, kemudian mati tidak mengimani sesuatu yang aku diutus karenanya, kecuali dia termasuk penghuni neraka." (HR.Muslim).
Beriman kepada Nabi sholalallohu 'alaihi wasallam artinya : membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan terhadap segala yang dibawanya, bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib (paman Nabi sholalallohu 'alaihi wasallam) dikatakan bukan orang yang beriman kepada Nabi sholalallohu 'alaihi wasallam, walaupun ia membenarkan apa yang dibawa oleh keponakannya itu, dan dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama terbaik.
Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang dikandung oleh agama-agama terdahulu. Islam mempunyai keistimewaan, yaitu relevan untuk setiap masa, tempat dan umat.
Alloh Subhana wa Ta'ala berfirman kepada RosulNya yang artinya : "Dan Kami telah turunkan kepadamu AlQur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumya, yaitu kitabkitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitabkitab
yang lain itu… ( QS. AlMaidah : 48).

Islam dikatakan relevan untuk setiap masa, tempat dan umat, maksudnya adalah bahwa berpegang teguh pada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umat di setiap waktu dan tempat. Bahkan dengan Islam, umat akan menjadi baik. Tetapi bukan berarti Islam tunduk pada waktu, tempat dan umat, seperti yang dikehendaki sebagian orang.
Agama Islam adalah agama yang benar. Alloh menjamin kemenangan kepada orang yang memegangnya dengan baik. Hal ini dikatakan dalam firmanNya, yang artinya :
"Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (AlQur'an)
dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orangorang musyrik tidak menyukai." ( QS. AtTaubah : 33).
Dan Alloh telah berjanji kepada orang orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalanamalan yang sholih bahwa Dia sungguhsungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlainya untuk mereka dan Dia benarbenar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam kekuatan menjadi aman sentosa.

Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orangorang yang fasik." ( QS. AnNur : 55).
Agama Islam merupakan aqidah dan syariat. Islam adalah agama yang sempurna dalam aqidah dan syari'at, karena :
1. memerintahkan untuk bertauhid dan melarang syirik.
2. memerintahkan untuk bersikap jujur dan melarang berbuat bohong/dusta.
3. memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang berbuat lalim.
Catatan :
Adil artinya menyamakan yang sama dan membedakan yang berbeda, bukan persamaan secara mutlak seperti yang dikatakan sebagian orang, yang mengatakan bahwa Islam adalah agama persamaan yang mutlak. Menyamakan halhal yang berbeda merupakan kelaliman yang tidak dianjurkan oleh Islam, dan pelakunyapun tidak terpuji.
4. memerintahkan untuk bersikap amanat dan melarang khianat.
5. memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.
6. memerintahkan untuk berbakti pada ibubapak serta melarang menyakitinya.
7. memerintahkan untuk bersilaturrahim/menyambung hubungan dengan kerabat dekat, serta melarang memutuskannya.
8. memerintahkan untuk berbuat baik dengan tetangga dan melarang berbuat jahat kepada mereka.Secara umum Islam memerintahkan agar bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan buruk.
Alloh Subhana wa Ta'ala berfirman :
"Sesungguhnya Alloh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, Dan Alloh melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." ( QS. An Nahl : 90).
Sumber: Terjemahan “PrinsipPrinsip Dasar Keimanan” oleh Syaikh Muhammad bin
Sholeh Al 'Utsaimin

Pendidikan Keimanan
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberikan pelajaran kepadanya:”hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesengguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang nyata.” (Q.S 31:13)

Mengenalkan Allah SWT kepada anak dalam usia dini:
1. Menghadirkan sosok Allah melalui aktivitas rutin. Seperti ketika kita bersin katakan alhamdulillah. Ketika kita memberikan uang jajan katakan bahwa uang itu titipan Allah jadi harus dibelanjakan dengan baik seperti beli roti.
2. Menciptakan hubungan yang hangat dan harmonis (bukan memanjakan)
Jalin hubungan komunikasi yang baik dengan anak, bertutur kata lembut, bertingkah laku positif. Hadits Rasulullah : “cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka…:” (H.R Bukhari)“Barang siapa mempunyai anak kecil, hendaklah ia turut berlaku kekanak-kanakkan kepadanya.”(H.R Ibnu Babawaih dan Ibnu Asakir).
3. Memanfaatkan momen religious. Seperti Sholat bersama, tarawih bersama di bulan ramadhan, tadarus alqur'an, buka shaum bersama.
4. Memberi kesan positif tentang Allah dan kenalkan sifat-sifat baik Allah Jangan mengatakan “ nanti Allah marah kalau kamu berbohong” tapi katakanlah “ anak yang jujur disayang Allah”.
5. Beri teladan. Anak akan bersikap baik jika orang tuanya bersikap baik karena anak menjadikan orang tua model atau contoh bagi kehidupannya. “hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.(Q.S 61:2-3)
6. Kreatif dan terus belajar. Sejalan dengan perkembangan anak. Anak akan terus banyak memberikan pertanyaan. Sebagai orang tua tidak boleh merasa bosan dengan pertanyaan anak malah kita harus dengan bijaksana menjawab segala pertanyaannya dengan mengikuti perkembangan anak.

Tujuan Pendidikan Islam (Khusus)
Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam surat a Dzariyat ayat 56 :

“ Dan Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”.
Jalal menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah Haji, serta mengucapkan syahadat. Tetapi sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan yang dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah. Aspek ibadah merupakan kewajiban orang islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar.

Ibadah ialah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah.

Menurut al Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah :
1. Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.
2. Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.
3. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.

Menurut al abrasyi, merinci tujuan akhir pendidikan islam menjadi
1. Pembinaan akhlak.
2. menyiapkan anak didik untuk hidup dudunia dan akhirat.
3. Penguasaan ilmu.
4. Keterampilan bekerja dalam masyrakat.

Menurut Asma hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan islam dapat diperinci menjadi :
1. Tujuan keagamaan.
2. Tujuan pengembangan akal dan akhlak.
3. Tujuan pengajaran kebudayaan.
4. Tujuan pembicaraan kepribadian.

Menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan islam menjadi :
1. Bahagia di dunia dan akhirat.
2. menghambakan diri kepada Allah.
3. Memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat islam.
4. Akhlak mulia.

Akidah Islam mempunyai banyak tujuan yang baik yang harus dipegang teguh, yaitu :
1. Untuk mengikhlaskan niat dan ibadah kepada Allah semata. Karena Dia adalah pencipta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, maka tujuan dari ibadah haruslah diperuntukkan hanya kepada-Nya.
2. Membebaskan akal dan pikiran dari kekeliruan yang timbul karena jiwa yang kosong dari akidah. Dan orang yang jiwanya kosong dari akidah, terkadang ia menyembah (menjadi budak) materi yang nyata saja, dan adakalanya terjatuh pada berbagai kesesatan akidah dan khurafat.
3. Ketenangan jiwa dan pikiran, terhindar dari kecemasan dalam jiwa dan kegoncangan pikiran. Karena akidah akan menghubungkan orang mukmin dengan Penciptanya, lalu meridhai Dia sebagai Tuhan yang mengatur, Hakim yang membuat syari`at. Oleh karena itu jiwanya menerima takdir, dadanya lapang, menyerah lalu tidak mencari Tuhan pengganti.
4. Meluruskan tujuan dan perbuatan dari penyelewengan dalam beribadah kepada Allah dan dalam bermuamalah dengan orang lain. Karena diantara dasar akidah adalah mengimani para Rasul, dengan mengikuti jalan mereka yang lurus dalam tujuan dan perbuatan.
5. Bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu dan tidak melewatkan kesempatan beramal kebajikan, selalu digunakannya dengan baik untuk mengharap pahala. Serta tidak melihat tempat dosa kecuali menjauhinya dengan rasa takut dari siksa. Karena diantara dasar akidah adalah mengimani hari berbangkit serta hari pembalasan terhadap seluruh perbuatan. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 132).Nabi Muhammad juga menghimbau untuk tujuan ini dalam sabdanya: “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap sesuatu yang berguna bagimu serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, maka jaganlah engkau katakan , seandainya aku kerjakan begini dan begitu (tentu tidak akan jadi begini). Akan tetapi katakanlah , itu takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan. Sesungguhnya ucapan “andai begini, andai begitu” membuka kesempatan setan untuk menyesatkan.” ( HR. Muslim).
6. Menciptakan umat yang kuat yang mengerahkan segala daya dan upaya untuk menegakkan agama Allah serta memperkuat tiang penyanggahnya tanpa peduli apa yang akan terjadi ketika menempuh jalan itu. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang –orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 15).
7. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok serta meraih pahala dan kemuliaan.Allah berfirman:“Barangsiapa yang mengerjakan amal baik, lelaki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan balasannya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang paling baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97). Inilah sebagian dari tujuan akidah Islam, Kami berharap agar Allah mewujudkannya pada diri kami dan diri seluruh umat Islam.

Berulangkali al-Qur’an menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang ajarannya terkait dengan fitrat manusia. Islam menekankan bahwa suatu agama yang berakar pada fitrat manusia tidak akan berubah. Dengan demikian agama yang benar-benar berakar pada fitrat manusia tidak akan mengalami perubahan asal saja agama itu tidak terlalu mencampuri situasi-situasi transien manusia dalam kurun waktu manapun dalam sejarah kehidupannya. Bila agama tersebut tetap bersiteguh pada prinsip-prinsip yang bersumber pada fitrat manusia maka agama itu memiliki potensi menjadi agama universal.

Islam malah selangkah maju dalam hal ini. Dengan hati yang lapang Islam menyatakan bahwa semua agama didunia sedikit banyak juga sama memiliki sifat universal tersebut. Dengan kata lain, dalam setiap agama samawi dapat ditemukan inti ajaran yang terkait dengan fitrat manusia dan kebenaran abadi. Inti ajaran agama itu tidak berubah kecuali jika pengikutnya mencemari ajaran itu dikemudian hari.
Ayat berikut menjelaskan hal diatas :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(al-Bayyinah [98]:6)

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,(ar-Rum [30]: 31)

Berdasarkan pandangan diatas muncul pertanyaan lalu apa gunanya menurunkan agama semi agama yang ajarannya sama. Selanjutnya mungkin orang akan bertanya pula mengapa Islam mengaku bahwa ia secara relatif lebih universal dan sempurna dibanding semua ajaran agama sebelumnya.
1.) Untuk menjawab pertanyaan pertama al-qur’an menjelaskan bahwa berdasar fakta historis, semua kitab dan Naskah suci yang turun sebelum Islam telah mengalami perubahan. Ajaran kitab itu berangsur-angsur mengalami penyesuaian-penyesuaian dengan memasukkan unsur baru secara interpolasi sehingga kemurniannya menjadi diragukan.
Dengan demikian menjadi kewajiban para pengikut agama-agama tersebut membuktikan kesahihan kitab-kitab mereka. Al-qur’an sendiri memiliki keunikan dibanding kitab-kitab dan naskah suci lainnya, bahkan musuh-musuh Islam yang paling gigih dalam menyangkal al-qur’an sebagai kitab yang diwahyukan, mengakui bahwa al-qur’an tidak mengalami perubahan sejak diturunkan kepada Muhammad s.a.w.
Misalnya kutipan berikut :
There is otherwise every security, internal and external that we possess the text which, Mohamet himself gave forth and used (h.xxvii, Life of Mohamet, Sir William Muir, London 1878)
We may upon the strongest assumption, affirm that every verse in the Qur’an is genuine and unaltered composition of Mohamet himself (h.xxviii Life of Mohamet, Sir William Muir, London 1878) Slight clerical error there may have been, but the Qur’an of Othman contains none but genuine elements, thought sometimes in very strange order. The efforts of European scholars to prove the existence of later interpolations in the Qur’an have failed (Prof. Noldeke in Encyclopedia Britannica 9th Edition , title Qur’an)

Lain lagi kalau kita bicara mengenai kontroversi tentang kitab mana yang dikarang oleh siapa. Sebuah kitab dari kalangan ahli kitab yang diragukan kesahihannya berasal dari Tuhan nyatanya memang berasal dari wahyu Tuhan yang sama, hanya saja di kemudian hari terjadi kontradiksi akibat interpolasi, campur tangan manusia. Jadi jelas dalam hal ini sikap Al-Qur’an adalah yang paling realis dan kondusif dalam mewujudkan perdamaian antar umat beragama.
2). Adapun mengenai pertanyaan kedua, Al-Qur’an mengingatkan kita akan adanya proses evolusi diseluruh sisi masyarakat manusia. Agama baru tidak hanya dibutuhkan sebagai restorasi agama lama melainkan juga mutlak diperlukan oleh agama lama dalam mengadaptasi kemajuan sejalan dengan perkembangan evolusi masyarakat.
3). Tidak cukup itu saja ada faktor lain yang ikut berproses dalam perubahan masyarakat adalah kurun waktu dimana ajaran itu diturunkan guna memenuhi kebutuhan sekelompok masyarakat tertentu pula dan dalam periode yang terbatas. Dengan kata lain agama tidak saja terdiri dari ajaran pokok berupa prinsip-prinsip yang baku melainkan pula diikuti dengan ajaran-ajaran tambahan.
4). Yang terakhir yang patut dipahami adalah, manusia tidak memperoleh pelatihan dan pendidikan dalam ajaran samawi dalam satu kali saja. Manusia dibawa secara bertahap hingga ke tingkat kedewasaan mental dimana ia telah cukup matang dan siap dalam menerima keseluruhan prinsip-prinsip dasar yang diperlukan sebagai bimbingan baginya. Menurut pandangan Al-Qur’an, ajaran kedua yang terkait erat berdasarkan pada prinsip yang fundamendal dan baku juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Islam sebagai agama yang sempurna (an-Nisaa' [4]: 14-16)
Hal diatas merupakan sebuah konsep universal dari Islam. Terpulang kepada manusia apakah mereka mau meneliti dan menilai kelebihan agama yang dibandingkannya.
Sekarang kita kembali kepada pertanyaan, mengenai agama-agama yang menyatakan dirinya lah yang ungggul dibanding yang lainnya. Islam menyatakan demikian. Melalui nubuatan Al-Qur’an menyatakan diri pada suatu waktu akan menjadi agama yang terunggul bagi umat manusia.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.(As-Shaf [61]: 10)
Walau Islam menghendaki berkembangnya perdamaian dan kerukunan antar umat beragama, namun Islam tidak melarang penyebaran ajaran dan idiologinya secara kompetitif dengan tujuan memperoleh keunggulan dibanding agama lainnya.
Mengenai Rasulullah saw Al-Qur’an menyatakan :

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".(al-A’raf [7]: 159)
Namun untuk menghindari perselisihan dan kesalahpahaman, Islam memberikan seperangkat petunjuk yang jelas guna memastikan kebebasan berkompetisi secara adil diantara agama-agama dalam hal menyatakan pendapat dan termasuk berbeda pendapat.(Mirza Tahir Ahmad,Islam’s response to contemporary issues)

Ada dua persyaratan bagi sebuah agama yang mengaku berasal dari Tuhan. Pertama adalah agama tersebut harus bersifat demikian komprehensif, sempurna, lengkap tanpa kekurangan dan bersih dari segala cacat dan noda dalam akidah, ajaran dan perintah-perintahnya, dimana fikiran manusia tidak mungkin merumuskan yang lebih baik lagi. Agama ini harus berada di atas dari semua agama lain menyangkut persyaratanpersyaratan tersebut. Hanya Al-Quran yang mengajukan klaim untuk itu dengan menyatakan: “Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama”. (S.5 Al-Maidah:4). Dengan kata lain, Allah s.w.t. meminta kita untuk menyelaraskan diri kita kepada realita yang inheren (melekat)di dalam kata Islam. Disini ada pengakuan bahwa Al-Quran merupakan ajaran yang sempurna dan bahwa saat turunnya Al- Quran merupakan saat dimana ajaran sempurna tersebut sudah bisa diungkapkan kepada manusia. Hanya Al-Quran yang layak membuat pengakuan demikian, tidak ada kitab samawi lainnya yang pernah mengajukan pernyataan seperti itu.
Baik kitab Taurat mau pun Injil tidak mau memberikan pernyataan demikian. Sebaliknya malah, karena kitab Taurat mengemukakan perintah Tuhan bahwa Dia akan membangkitkan seorang Nabi dari antara para saudara Bani Israil dan akan meletakkan Firman-Nya dalam mulut Nabi itu dan barangsiapa tidak mau membuka telinganya bagi firman Tuhan tersebut akan dimintakan pertanggungjawaban.
Dari hal ini menjadi jelas bahwa jika Taurat memang sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan manusia di abad-abad berikutnya maka tidak perlu lagi adanya kedatangan Nabi lain dimana manusia diwajibkan mendengar dan patuh kepadanya. Begitu pula dengan Injil, tidak ada mengandung satu pun pernyataan yang mengemukakan bahwa ajaran yang dibawanya telah sempurna dan komprehensif. Bahkan jelas ada pengakuan
Yesus bahwa masih banyak yang harus disampaikan kepada para murid beliau namun mereka belum kuat menanggungnya, tetapi jika nanti sang Penghibur atau Roh Kebenaran
(Paraclete) telah datang maka ia akan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran2. Dengan demikian jelas bahwa Nabi Musa a.s. pun mengakui masih kurang sempurnanya kitab Taurat dan memintakan perhatian umatnya kepada seorang Nabi yang akan datang. Begitu pula dengan Nabi Isa a.s. yang mengakui kekurang-sempurnaan ajaran yang beliau bawa karena saatnya belum tiba untuk dibukakannya ajaran yang sempurna, tetapi juga mengingatkan bahwa jika nanti Paraclete sudah turun maka ia itulah yang akan memberikan ajaran yang sempurna. Sebaliknya dengan Al-Quran yang tidak ada meninggalkan persoalan terbuka untuk diselesaikan oleh kitab lainnya sebagaimana halnya dengan Taurat dan Injil, bahkan mengumandangkan kesempurnaan ajaran yang dikandungnya dengan firman:“Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama”. (S.5 Al-Maidah:4).

Inilah yang menjadi argumentasi pokok yang mendukung Islam sebagai agama yang mengungguli agama-agama lainnya dalam ajaran yang dibawanya sehingga tidak ada agama lain yang bisa dibandingkan dalam kesempurnaan ajaran yang dikandungnya. Karakteristik kedua daripada Islam yang tidak ada pada agama lain yang juga menjadi bukti kebenarannya adalah agama ini memanifestasikan karunia dan mukjizat yang hidup. Tandatanda yang diperlihatkan Islam tidak saja mengukuhkan kelebihannya di atas agama lain tetapi juga menjadi daya tarik
bagi kalbu manusia melalui penampakan Nur-nya yang sempurna. Karakteristik pertama Islam sebagaimana dijelaskan di atas yaitu mengenai kesempurnaan ajaran yang dibawanya, belumlah cukup konklusif untuk meneguhkan bahwa Islam adalah agama benar yang diturunkan oleh Allah s.w.t. Seorang lawan yang fanatik dan berpandangan cupat, bisa saja mengatakan bahwa bisa jadi agama itu sempurna namun belum tentu berasal dari Tuhan. Karakteristik yang pertama memang bisa memuaskan seorang pencari kebenaran yang bijak setelah diombang-ambingkan oleh berbagai keraguan, membawanya lebih dekat kepada suatu kepastian, namun belum mengukuhkan permasalahannya secara konklusif jika belum dirangkaikan dengan karakteristik kedua. Melalui rangkaian kedua karakteristik itu maka Nur agama yang benar mencapai kesempurnaannya. Agama yang benar mengandung ribuan bukti dan Nur, namun dua karakteristik tersebut cukuplah kiranya memberi keyakinan bagi hati seorang pencari kebenaran dan menjelaskan permasalahannya sehingga memuaskan mereka yang menyangkal kebenaran. Tidak ada lagi yang diperlukan sebagai tambahan. Pada awalnya aku bermaksud mengemukakan tigaratus argumentasi dalam buku Barahin Ahmadiyah. Tetapi setelah direnungi lebih lanjut, aku merasa dua karakteristik ini bisa menggantikan ribuan buktibukti lain dan karena itu Allah s.w.t. menjadikan aku merubah rencanaku itu.

Tujuan hidup kita cuma satu, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Jadi sebelum kita melakukan sebuah pekerjaan ataupun sesuatu, kita niatkan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT dan memulainya dengan membaca Bismillah. Insya Allah akan menyenangkan. Amien.

No comments:

Post a Comment

.::BY JUMBHO-MY AT HOME IN THE JEPARA CITY OF BEAUTIFUL::.